Digital Dementia: Jebakan Teknologi atas Krisis Kognitif dalam Ekosistem Digital

by admin
0 comment

Perkembangan teknologi digital dewasa ini tidak sekadar menghadirkan perubahan teknis dalam cara manusia berkomunikasi, melainkan juga menandai transformasi ontologis dalam cara manusia menjadi subjek. Dalam konteks ini, konsep digital dementia yang diperkenalkan oleh Manfred Spitzer dapat dibaca bukan hanya sebagai gejala neurokognitif, tetapi sebagai tanda dari pergeseran epistemologis yang lebih dalam—yakni perubahan dalam relasi antara manusia, pengetahuan, dan teknologi (Spitzer 2012). Apa yang dipertaruhkan bukan sekadar melemahnya daya ingat, melainkan transformasi mendasar dalam cara manusia mengalami dunia.

Dalam kerangka klasik filsafat modern, kemampuan mengingat dan berpikir merupakan inti dari subjektivitas manusia. Namun, dalam era digital, fungsi-fungsi tersebut semakin “dieksternalisasi” ke dalam perangkat teknologi. Fenomena ini, yang dikenal sebagai cognitive offloading, menandai pergeseran dari internal cognition menuju distributed cognition (Sparrow, Liu, dan Wegner 2011). Dalam perspektif Neuroplasticity, perubahan ini memiliki implikasi signifikan terhadap struktur otak, karena kebiasaan kognitif akan membentuk ulang jaringan saraf manusia (Spitzer 2012).

Namun, perubahan ini tidak dapat dipahami secara memadai tanpa melihatnya dalam konteks modernitas yang lebih luas. Anthony Giddens menggambarkan modernitas sebagai sebuah juggernaut, kekuatan besar yang bergerak secara dinamis dan sulit dikendalikan (Giddens 1990). Teknologi digital merupakan manifestasi mutakhir dari kekuatan tersebut, yang tidak hanya mempercepat arus informasi, tetapi juga mempercepat transformasi kognitif manusia. Dalam konteks ini, digital dementia dapat dipahami sebagai konsekuensi dari ketidakmampuan manusia untuk sepenuhnya mengendalikan laju perkembangan teknologi yang ia ciptakan sendiri.

Lebih lanjut, dalam kerangka teori masyarakat risiko dari Ulrich Beck, fenomena ini mencerminkan produksi risiko baru yang bersifat laten dan tidak kasat mata (Beck

1992). Risiko tersebut tidak lagi berupa ancaman fisik, melainkan penurunan kapasitas kognitif yang terjadi secara perlahan. Dalam masyarakat yang semakin bergantung pada teknologi digital, risiko ini menjadi semakin signifikan, karena menyentuh inti dari kemampuan manusia untuk berpikir dan memahami dunia.

Dalam dimensi kekuasaan, analisis Michel Foucault mengenai biopolitik memberikan perspektif penting. Foucault menunjukkan bahwa kekuasaan modern bekerja melalui pengelolaan kehidupan, termasuk tubuh dan perilaku manusia (Foucault 1978). Dalam era digital, kekuasaan ini termanifestasi melalui algoritma dan platform digital yang mengatur perhatian dan preferensi pengguna. Perhatian manusia menjadi objek ekonomi politik, di mana platform digital bersaing untuk mempertahankan keterlibatan pengguna selama mungkin.

Namun, untuk memperdalam analisis ini secara filosofis, pemikiran Martin Heidegger tentang teknologi memberikan dimensi ontologis yang krusial. Dalam esainya The Question Concerning Technology, Heidegger menegaskan bahwa esensi teknologi bukanlah sesuatu yang teknis, melainkan cara tertentu dalam mengungkapkan realitas (Heidegger 1977). Teknologi modern, menurut Heidegger, bekerja melalui apa yang disebut sebagai Gestell (enframing), yaitu kerangka yang mengatur bagaimana dunia muncul bagi manusia.

Dalam kondisi Gestell, segala sesuatu—termasuk manusia—dipandang sebagai standing-reserve, yakni sumber daya yang siap digunakan dan dioptimalkan. Jika kita membaca fenomena digital dementia dalam kerangka ini, maka yang terjadi bukan sekadar penurunan memori, melainkan transformasi dalam cara manusia memahami pengetahuan. Pengetahuan tidak lagi dihayati sebagai sesuatu yang harus diinternalisasi, tetapi sebagai sesuatu yang selalu tersedia secara eksternal melalui perangkat digital (Heidegger 1977).

Fenomena cognitive offloading dengan demikian dapat dipahami sebagai konsekuensi dari logika Gestell. Ketika dunia dihadirkan sebagai sesuatu yang selalu siap diakses, maka kebutuhan untuk mengingat menjadi berkurang. Dalam istilah Heidegger, manusia tidak lagi dwelling dalam pengetahuan, tetapi hanya mengaksesnya secara instrumental. Hal ini mengarah pada dominasi calculative thinking, yaitu cara berpikir yang berorientasi pada efisiensi dan kegunaan, sementara meditative thinking—yang bersifat reflektif dan mendalam—semakin terpinggirkan (Heidegger 1977).

Jika dikaitkan dengan analisis Michel Foucault, maka Gestell dapat dilihat sebagai kondisi ontologis yang memungkinkan beroperasinya biopolitik digital. Algoritma tidak hanya mengatur perilaku, tetapi juga membentuk cara realitas itu sendiri diungkapkan kepada manusia. Dengan demikian, penurunan kapasitas kognitif yang diasosiasikan dengan digital dementia bukan hanya akibat penggunaan teknologi, tetapi juga hasil dari cara teknologi mengonstruksi dunia.

Kondisi ini menjadi semakin kompleks dengan hadirnya Generasi Alpha, yang lahir dalam lingkungan digital yang sudah sepenuhnya matang. Berbeda dengan generasi sebelumnya, Generasi Alpha tidak mengalami transisi dari dunia analog ke digital.

Bagi mereka, dunia digital adalah kondisi ontologis awal. Dalam perspektif Heideggerian, ini berarti bahwa Gestell telah menjadi horizon dasar dari pengalaman mereka.

Implikasinya sangat signifikan. Jika cara dunia diungkapkan sejak awal sudah dibentuk oleh teknologi digital, maka kapasitas kognitif Generasi Alpha juga terbentuk dalam kerangka tersebut. Dalam konteks ini, digital dementia tidak lagi dapat dipahami sebagai deviasi dari norma lama, melainkan sebagai kemungkinan inheren dalam struktur pengalaman mereka.

Di Indonesia, fenomena ini diperkuat oleh tingginya penetrasi teknologi digital dan dominasi penggunaan media sosial. Generasi Alpha tumbuh dalam lingkungan yang sangat terkoneksi, tetapi tidak selalu disertai dengan literasi kritis terhadap teknologi. Hal ini menciptakan kondisi di mana teknologi tidak hanya digunakan, tetapi juga secara tidak sadar membentuk cara berpikir dan berinteraksi.

Namun demikian, seperti yang diingatkan oleh Martin Heidegger, di dalam bahaya terdapat juga potensi keselamatan (saving power) (Heidegger 1977). Kesadaran terhadap Gestell membuka kemungkinan untuk membangun relasi yang lebih reflektif dengan teknologi. Dalam konteks ini, pendidikan memiliki peran penting dalam mengembangkan kemampuan berpikir reflektif yang tidak sepenuhnya tunduk pada logika teknologi.

Dengan demikian, fenomena digital dementia tidak dapat dipahami secara sempit sebagai gangguan kognitif, melainkan sebagai gejala dari transformasi ontologis dalam era digital. Ia mencerminkan perubahan dalam cara manusia memahami pengetahuan, mengelola perhatian, dan mengalami dunia. Dalam kerangka Anthony Giddens, Ulrich Beck, Michel Foucault, dan Martin Heidegger, fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi bukan sekadar alat, tetapi kekuatan yang membentuk kondisi eksistensial manusia.

Pada akhirnya, tantangan yang dihadapi bukanlah bagaimana menghindari teknologi, tetapi bagaimana mengembangkan cara untuk hidup bersama teknologi tanpa kehilangan kapasitas reflektif sebagai manusia. Dalam dunia yang semakin didominasi oleh logika Gestell, menjaga ruang bagi meditative thinking menjadi tugas filosofis yang mendesak.

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
-
00:00
00:00
Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00