{"id":3104,"date":"2025-06-19T15:30:53","date_gmt":"2025-06-19T08:30:53","guid":{"rendered":"https:\/\/pijarinstitute.org\/?p=3104"},"modified":"2025-06-19T15:34:36","modified_gmt":"2025-06-19T08:34:36","slug":"idealisme-yang-tergerus-transaksionalisme-akademik-dan-politik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pijarinstitute.org\/index.php\/2025\/06\/19\/idealisme-yang-tergerus-transaksionalisme-akademik-dan-politik\/","title":{"rendered":"Idealisme yang Tergerus Transaksionalisme Akademik dan Politik"},"content":{"rendered":"<p><em>Oleh : Riki Darmawan<\/em><\/p>\n<p>Mahasiswa secara historis selalu dipandang sebagai aktor utama dalam perubahan sosial, agen moral, dan penjaga nurani bangsa. Mereka tidak hanya menuntut ilmu di ruang kelas, tetapi juga membentuk opini publik, memobilisasi gerakan, dan menjadi kekuatan penyeimbang kekuasaan. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, muncul istilah satiris &#8220;mahasewa&#8221;, sebuah permainan kata dari \u201cmahasiswa\u201d yang menggambarkan kondisi sebagian kalangan pelajar perguruan tinggi yang lebih pragmatis dan transaksional, menjadikan status kemahasiswaannya sebagai komoditas demi keuntungan pribadi. Fenomena ini memunculkan paradoks antara idealisme yang diagungkan dan realitas oportunistik yang dijalani.<\/p>\n<p>Paradoks peran mahasiswa telah banyak dibahas oleh para pemikir sosial dan politik. Antonio Gramsci (1971) melalui konsep <em>intellectual and moral leadership<\/em> menggarisbawahi bahwa kaum terpelajar harus menjadi \u201corganik\u201d, terhubung dengan perjuangan rakyat. Paulo Freire (1970) dalam <em>Pedagogy of the Oppressed<\/em> menyebut pendidikan harus membebaskan, bukan menjinakkan. Namun, dalam praktiknya, banyak mahasiswa hari ini justru bertransformasi menjadi alat kekuasaan atau pasar, kehilangan daya kritis dan keberpihakan moral. Istilah \u201cmahasewa\u201d muncul sebagai respons atas pergeseran nilai ini.<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<h1>Sebuah Paradoks: Antara Idealime Akademik dan Komodifikasi Status Mahasiswa<\/h1>\n<p>Mahasiswa dalam sejarahnya memiliki peran penting dalam perubahan sosial, mulai dari Reformasi 1998 di Indonesia hingga Revolusi Iran dan Gerakan Mei 1968 di Prancis. Namun, kini terdapat gejala penurunan semangat perjuangan dalam dunia kampus, tergantikan oleh pragmatisme, pencitraan, dan bahkan transaksionalisme dengan kekuasaan atau sektor swasta. Fenomena ini terlihat dalam organisasi mahasiswa yang menjadikan aktivitas advokasi hanya sebagai tangga karier politik, atau kelompok-kelompok kampus yang menjual isu untuk mendapatkan proyek dan dana hibah.<\/p>\n<p>Dalam logika neoliberalisme pendidikan, seperti yang dikritik Henry Giroux (2014), universitas tak lagi menjadi ruang kritik dan pencarian kebenaran, tetapi berubah menjadi korporasi akademik. Mahasiswa menjadi pelanggan (client) dan bukan lagi peserta didik (learner). Hal ini membentuk mentalitas \u201cinvestasi balik modal\u201d, di mana kegiatan kemahasiswaan dikalkulasi berdasarkan potensi keuntungan pribadi, bukan lagi komitmen perubahan sosial. Pierre Bourdieu (1986) menyebut ini sebagai bentuk <em>reproduksi simbolik<\/em>, di mana status sosial mahasiswa digunakan untuk mengakses modal sosial dan politik, bukan memperjuangkan keadilan.<\/p>\n<p>Contohnya, dalam pemilihan presiden mahasiswa (presma), bukan hal asing jika praktik politik uang, manipulasi data suara, dan \u201ckoalisi elite\u201d mewarnai proses elektoral. Kegiatan diskusi kritis digantikan seminar-seminar pencitraan yang lebih mirip pelatihan korporat. Tak sedikit mahasiswa yang lebih tertarik memburu <em>magang prestisius<\/em> di lembaga internasional demi LinkedIn mereka, ketimbang mengadvokasi isu warga miskin yang tergusur di dekat kampusnya.<\/p>\n<h1>Konteks Indonesia: Dari Kampus Perjuangan ke Kampus Pencitraan<\/h1>\n<p>Fenomena \u201cmahasewa\u201d sangat nyata dalam konteks Indonesia. Kampus-kampus yang dahulu dikenal sebagai pusat perlawanan kini justru menjadi ruang steril dari diskursus politik. Bahkan, tak sedikit rektorat yang membatasi kebebasan berpendapat mahasiswa atas nama \u201ckenetralan akademik\u201d atau \u201ccitra institusi\u201d. Namun di sisi lain, beberapa kelompok mahasiswa justru menjadikan status \u201caktivis\u201d sebagai pintu masuk menuju elitisme politik, menjadi <em>broker<\/em> antara kepentingan mahasiswa dan institusi pemerintah atau partai politik.<\/p>\n<p>Saat gelombang demonstrasi penolakan UU Cipta Kerja pada 2020, kita menyaksikan bagaimana fragmentasi di tubuh gerakan mahasiswa membuat tuntutan tidak solid. Ada yang turun ke jalan karena panggilan nurani, namun ada juga yang hanya menjalankan \u201ckontrak turun aksi\u201d dari pihak luar, termasuk partai politik, LSM, bahkan media. Isu diperjuangkan bukan karena keyakinan, tapi karena \u201ckonten\u201d dan peluang ekspose. Ini merupakan distorsi antara \u201cmahasiswa\u201d sebagai agen perubahan, dan \u201cmahasewa\u201d sebagai aktor transaksional.<\/p>\n<p>Menurut Saskia Sassen (2000), globalisasi ekonomi dan media menciptakan ruang-ruang baru yang menjadikan individu sebagai <em>node<\/em> dalam jaringan kepentingan yang lebih luas. Dalam konteks ini, mahasiswa bukan lagi subjek perlawanan, tetapi objek dari kapitalisme politik dan digital. Mereka menjadi \u201cinfluencer sosial\u201d yang nilai keberpihakannya diukur berdasarkan algoritma dan impresi digital, bukan kebenaran substansial.<\/p>\n<h1>Kesimpulan<\/h1>\n<p>Fenomena \u201cmahasewa\u201d bukan hanya kritik terhadap individu mahasiswa, tetapi refleksi atas transformasi pendidikan tinggi, politik identitas, dan lanskap sosial yang makin terpolarisasi. Ketika idealisme digantikan dengan strategi oportunistik, dan ketika pendidikan dimaknai sebagai investasi pribadi, maka cita-cita mahasiswa sebagai <em>moral force<\/em> kehilangan maknanya. Inilah paradoks mahasiswa kontemporer: di satu sisi dituntut menjadi agen perubahan, namun di sisi lain dibentuk oleh sistem yang mendorong konformitas, kompromi, dan kalkulasi pribadi.<\/p>\n<p>Sebagaimana dikatakan Gramsci:<\/p>\n<h1>\u201cThe old is dying and the new cannot be born; in this interregnum, a great variety of morbid symptoms appear.\u201d<\/h1>\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-3106\" src=\"https:\/\/pijarinstitute.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/WhatsApp-Image-2025-06-19-at-3.23.18-PM.jpeg\" alt=\"\" width=\"1080\" height=\"1080\" srcset=\"https:\/\/pijarinstitute.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/WhatsApp-Image-2025-06-19-at-3.23.18-PM.jpeg 1080w, https:\/\/pijarinstitute.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/WhatsApp-Image-2025-06-19-at-3.23.18-PM-300x300.jpeg 300w, https:\/\/pijarinstitute.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/WhatsApp-Image-2025-06-19-at-3.23.18-PM-1024x1024.jpeg 1024w, https:\/\/pijarinstitute.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/WhatsApp-Image-2025-06-19-at-3.23.18-PM-150x150.jpeg 150w, https:\/\/pijarinstitute.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/WhatsApp-Image-2025-06-19-at-3.23.18-PM-768x768.jpeg 768w, https:\/\/pijarinstitute.org\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/WhatsApp-Image-2025-06-19-at-3.23.18-PM-585x585.jpeg 585w\" sizes=\"(max-width: 1080px) 100vw, 1080px\" \/><\/p>\n<p>Mahasiswa hari ini hidup dalam <em>interregnum<\/em>\u2014antara harapan dan kenyataan. Maka tugasnya adalah menemukan kembali makna perjuangan, bukan dengan nostalgia masa lalu, tapi dengan keberanian menolak menjadi komoditas dan mulai menjadi subjek dari sejarah itu sendiri.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Riki Darmawan Mahasiswa secara historis selalu dipandang sebagai aktor utama dalam perubahan sosial, agen moral, dan penjaga nurani bangsa. Mereka tidak hanya&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3105,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"googlesitekit_rrm_CAowvOG6DA:productID":"","content-type":"","_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","footnotes":""},"categories":[118,119,120],"tags":[],"class_list":["post-3104","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-economy","category-political","category-social"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pijarinstitute.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3104","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pijarinstitute.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pijarinstitute.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pijarinstitute.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pijarinstitute.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3104"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/pijarinstitute.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3104\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3110,"href":"https:\/\/pijarinstitute.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3104\/revisions\/3110"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pijarinstitute.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3105"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pijarinstitute.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3104"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pijarinstitute.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3104"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pijarinstitute.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3104"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}